Selasa, 17 Desember 2013

Fibonacci Retracement


Hikayat Fibonacci
Rasio Fibonacci cukup populer di kalangan para teknikalis. Angka-angka yang dihasilkan dari perhitungan rasio ini cukup membantu kita dalam menentukan level entry dan exit.
Rasio Fibonacci pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli matematika abad pertengahan asal Italia. Namanya Leonardo Fibonacci yang berasal dari kota Pisa. Ia memperkenalkan deret angka yang rasionya terdapat dalam proporsi bentuk-bentuk di alam. Deret angka tersebut juga ia libatkan dalam perhitungan perkembangbiakan kelinci dalam situasi yang ideal. Di kemudian hari, deret ini dikenal dengan deret Fibonacci atau angka Fibonacci.
Deret tersebut adalah: 0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, 89,… dan seterusnya.
Trivia quiz untuk Anda: berapakah yang muncul setelah 89? Kalau Anda menjawab dengan benar tanpa bertanya pada om Google atau tante Wiki, maka sepertinya Anda memiliki potensi yang besar untuk menjadi teknikalis handal. J
Dari deret tersebutlah ditemukan ada rasio yang paling ditemui di setiap bentuk benda di alam ini, yaitu kira-kira 1 : 1.618 atau 0.618 : 1. Rasio ini yang kemudian disebut sebagai “golden ratio”.
Itulah sedikit hikayat Fibonacci. Oke, Anda akan segera keluar dari segala kerumitan matematika ini… (Akhirnya!)
Penerapan Dalam Trading: Fibonacci Retracement
Tenang, Anda sama sekali tidak perlu menghitung rasio Fibonacci dalam praktek trading. Platform trading yang kita pakai (Metatrader) telah menyediakan tool yang sangat membantu kita untuk mengaplikasikan ilmu warisan Fibonacci ini secara instan. Nama tool tersebut adalah Fibonacci retracement.
Para trader menggunakan level-level yang diberikan oleh Fibonacci retracement untuk membantu menentukan kisaran area yang potensial sebagai support dan resistance. Tool ini bisa dimanfaatkan dengan baik pada saat pasar sedang dalam keadaan “trending”, baik itu saat up trend maupun down trend. Konsep dasar penggunaan Fibonacci retracement adalah mencari peluang buy ketika harga berada di kisaran support. Sebaliknya, Anda bisa mencari peluang sell ketika harga berada di kisaran resistance yang diperoleh dari Fibonacci retracement.
Untuk bisa menemukan level-level retracement, Anda harus terlabih dahulu menemukan titik-titik tertinggi dan terendah yang signifikan. Titik-titik tersebut kita sebut sebagai “swing high” dan “swing low”.
Pada pergerakan di saat up trend, yang Anda lakukan adalah menarik Fibonacci retracement dari swing low ke swing high seperti yang terlihat dalam gambar di bawah ini.

Sebaliknya, pada pergerakan di saat down trend, yang Anda lakukan adalah menarik Fibonacci retracement dari swing high ke swing low seperti yang terlihat dalam gambar di bawah ini.

Terlihat dalam kedua gambar di atas bahwa level-level Fibonacci yang kita gunakan dalam trading adalah level 0.0%, 23.6%, 38.2%, 50.0%, 61.8%, 76.4% dan 100.0%. Level-level itulah yang kita jadikan sebagai acuan atau referensi untuk menentukan area support dan resistance.
Dengan menggunakan Fibonacci retracement ini, Anda juga dapat mengambil beberapa level untuk Anda jadikan area referensi yang akan berguna untuk menentukan level entry. Level-level yang populer adalah 38.2%, 50.0% dan 61.8%. Di kisaran level-level tersebut seringkali muncul sinyal buy atau sell yang akurasinya cukup tinggi.
Level-level Fibonacci retracement sebenarnya adalah level-level support dan resistance. Jadi, area referensi untuk mencari sinyal sell sebenarnya adalah area resistance. Dengan demikian, area referensi untuk mencari sinyal buy sebenarnya adalah area support.
Strateginya mirip dengan bounce trading, atau lebih tepatnya: swing trading. Anda menunggu pullback hingga ke area referensi dan mencari apakah ada konfirmasi sinyal buy atau sell. Namun karena Anda belum mempelajari sinyal buy maupun sell, untuk sementara Anda menggunakan Fibonacci retracement saja dulu. Ketika pergerakan harga tertahan di area referensi tersebut, maka Anda bisa mencoba untuk melakukan sell atau buy.
Sekarang, mari kita lihat aplikasinya pada grafik pergerakan harga.
Strategi Buy
Seperti yang sudah dijelaskan, Anda bisa memanfaatkan area referensi Fibonacci untuk mencari level buy. Tentu saja hal ini Anda lakukan pada saat up trend. Di bawah ini ada contoh grafik berdasarkan pergerakan GBP/USD. Anda akan mempelajari praktek strategi buy dengan menggunakan area referensi berdasarkan Fibonacci retracement. Anda siap? Sebaiknya  demikian. 

Dalam contoh di atas Anda telah menggambar Fibonacci retracement dengan acuan swing low di 1.6271 (100.0%) dan swing high di 1.6592 (0.0%). Area referensi di mana Anda akan mencoba mencari konfirmasi pantulan yang merupakan sinyal buy bagi Anda, ada tiga level retracement, yaitu: 1.6469 (38.2%), 1.6431 (50.0%) dan 1.6394 (61.8%). Ketiga level ini merupakan support.
Anda menunggu sampai harga masuk ke area referensi itu. Level terbaik untuk Buy adalah di sekitar 61.8%, namun ada kalanya Anda juga mendapatkan konfirmasi pantulan di sekitar 50.0%.
Nah, sekarang Anda bisa melihat bahwa harga berkali-kali mencoba menembus level 1.6394 (61.8%). Terlihat level tersebut “diuji” hingga empat kali, namun selalu candlestick ditutup di atas 1.6394. Ini merupakan pertanda bahwa support itu kuat dan inilah saatnya Anda melakukan buy, di sekitar 1.6431. Targetnya adalah level 1.6592 (0.0%), sementara antisipasinya berada di exit point (1) yaitu 1.6347 atau exit poit (2) di 1.6271. Jadi kalau harga ternyata malah turun, Anda akan lepas posisi buy Anda di salah satu dari kedua level tersebut.
Mengapa harus ada exit point? Untuk antisipasi jika ternyata pasar berkehendak lain, yang berlawanan dengan perkiraan Anda. Ingat selalu bahwa tidak ada analisis teknikal yang 100% benar. Analisis teknikal hanya membantu Anda untuk mendekati kebenaran. Lho, terus bagaimana dong? Nanti, di level kelas yang lebih tinggi, Anda juga akan mempelajari mengenai manajemen resiko dan manajemen modal, yang kalau dipadukan dengan pengetahuan analisis teknikal yang baik akan menjdi senjata ampuh dalam trading. Semangat! 
Mengapa ada dua exit point? Karena seringkali tembusnya level 76.4% merupakan indikasi awal bahwa arah tren akan berubah, sehingga banyak trader yang memilih untuk “bermain aman” dengan melepas posisi mereka setelah level tersebut tembus (break). Namun konfirmasi perubahan arah tren (reversal) sebenarnya adalah level 100.0%, sehingga para trader yang lebih “berani” memilih tembusnya level tersebut sebagai exit point mereka. Jadi, ini lebih kepada style dan mungkin kekuatan modal.
Oke kita lihat sekarang apa yang terjadi pada GBP/USD setelah Anda melakukan buy.
Ternyata GBP/USD naik dan target Anda tercapai! Indah bukan? 
Strategi Sell
Strategi ini sebenarnya hanya merupakan kebalikan dari strategi buy. Kalau strategi buy dilakukan pada saat up trend, maka strategi sell ini dilaksakanan pada saat down trend.
Di bawah ini adalah grafik pergerakan GBP/USD.

Pada saat ini Anda menunggu terjadi pullback ke area referensi sell yang berada di kisaran antara 1.6619 (38.2%) hingga 1.6718 (61.8%). Di tengah-tengah ada level 50.0% yang berada di level 1.6668. Ingat ya, ketiga level ini adalah level resistance dan area referensi Anda itu sebenarnya adalah area resistance.
Nah, sekarang pullback telah terjadi dan Anda bisa melihat bahwa harga telah berada di dalam area referensi. Perhatikan bahwa harga tidak mampu menembus ke atas level 1.6718 (61.8%), bahkan malah turun dan tembus ke bawah 1.6668 (50.0%). Inilah sinyal bahwa Anda boleh melakukan sell dengan target di level 1.6458 (0.0%). Jangan lupa, antisipasinya adalah di exit point (1) di 1.6780 atau (2) di 1.6879, seandainya ternyata perkiraan Anda salah.
Sekarang, mari kita lihat apa yang terjadi selanjutnya….
Pergerakan harga GBP/USD turun dan target anda tercapai..
Yap, hari yang indah….
Meskipun demikian, tidak berarti kita hanya boleh melakukan sell atau buy di level 61.8% saja. Terkadang, di level 76.4% pun kita masih bisa melakukan buy atau sell.


Yang harus kita perhatikan adalah jangan sampai level 76.4% tembus. Level ini sering disebut sebagai level “kritis”. Jika level ini tembus, maka kecenderungannya akan terjadi reversal (pembalikan arah), bukan lagi koreksi. Pada gambar di atas, meskipun upper shadow dari candlestick sudah menembus level 76.4%, namun ternyata harga penutupannya masih di bawah level 76.4%, sehingga level ini belum bisa dianggap tembus .


Memang aplikasi Fibonacci retracement ini terlihat mudah. Nah, sekarang yang perlu juga untuk diketahui bahwa sebenarnya tidak semudah itu. Kebanyakan kesalahan terjadi ketika menentukan swing high dan swing low. Maka dari itu, diperlukan pengamatan yang jeli dan latihan untuk mengasah ketajaman Anda mengenali swing high dan swing low. Juga, kesabaran untuk menanti konfirmasi di area referensi mutlak diperlukan untuk bisa mempraktekkan teori ini dengan baik.

Info di atas sebenarnya bisa menambah beberapa juta rupiah di daftar asset Anda. Belum tau caranya? Yup.. Salah satunya lewat trading forex.. belajar di sini aja, 100% gratis.
Udah ahli tapi tidak berani trading besar-besaran karena pakai broker luar negri? Kalau broker lokal, komisi nya besar banget? Coba dulu di demo account dengan KOMISI TERMURAH! Coba rekomendasi demo accountnya disini ya:

1 komentar:

  1. Dapatkan $123 di dalam akun bonus FBS

    Bonus bisa dipakai untuk trading delama 7 hari kerja dari bonus masuk ke akun
    Profit Anda tidak terbatas
    Anda bisa dapat bonus tanpa butuh verifikasi dan notifikasi

    Tertarik.... ? Coba ikuti link ini

    Keuntungannya untuk FBS?

    Bonus 100% deposit untuk trading
    Promosi kontes tetap dan menguntungkan
    Komisi mitra yang paling besar: sampai $80 per lot
    Deposit dan penarika via sistem apapun dalam mata uang apapun
    Leverage 1:3000 ... Maknyus paling besar

    BalasHapus

 
Design by SmartradeForex - Free Demo Akun | ForexIMF.com