Jumat, 31 Januari 2014

Risk Management


Akhirnya kita sampai di bagian yang tak kalah pentingnya : risk management alias manajemen resiko. Resiko adalah faktor penyerta dari setiap bisnis. Benar, tidak ada bisnis yang bebas dari resiko. Di awal modul edukasi ini kita sudah sempat membahas tentang hal ini. Bahkan jualan pisang goreng pun ada resikonya. Resiko tidak bisa kita tiadakan, namun bisa “dikendalikan”.

Resiko yang dihadapi setiap bentuk bisnis adalah rugi. Demikian pula di bisnis futures trading seperti ini. Futures trading merupakan suatu bentuk bisnis yang mengandung potensi resiko yang cukup tinggi. Namun, peluang keuntungan (return) yang ditawarkan pun tak kalah tinggi.

Nah, untuk bisa memaksimalkan peluang keruntungan itu (sekaligus meminimalisir resiko) dibutuhkan manajemen resiko, atau yang kita kenal dengan nama “risk management”.

Dengan menerapkan risk management, berarti kita menerapkan kontrol penuh atas uang kita. Kita bisa membatasi sampai sejauh mana kerugian yang mungkin akan kita alami. Ibarat bermain catur, kita harus mempersiapkan langkah apa yang akan kita jalankan dan antisipasinya jika langkah kita itu keliru.
Ingatlah bahwa tidak ada satu orangpun yang bisa menentukan masa depan. Dengan demikian, juga tak ada seorang pun yang tahu persis ke mana harga akan bergerak. Kebanyakan trader pemula gagal karena tidak memiliki dasar manajemen resiko yang baik.

Risk Management Tools
Dalam trading forex, penerapan risk management dibantu dengan 4 teknik risk management: cut loss, switching, averaging dan hedging/locking.
1. Cut loss
Cut loss dilakukan dengan segera menutup transaksi yang merugi dengan tujuan menghindari potensi resiko yang lebih besar.
Contoh ilustrasi berikut ini dapat membantu Anda untuk memahaminya:


Misalnya kita memprediksi harga akan turun, dan kita melakukan Sell sebanyak 1 lot di level 1.50200. Ternyata harga malah bergerak naik hingga ke level 1.50500, sehingga kita mengalami kerugian sebesar -300 pips. Karena kita tidak mau menghadapi resiko kerugian yang lebih besar, maka di level 1.50500 posisi Sell tadi kita tutup, dengan konsekuensi kita mengalami kerugian sebesar -300 pips.
2. Switching
Tujuannya untuk membuang posisi yang mengalami kerugian agar tidak semakin besar lalu meng-cover-nya dengan cara membuka transaksi baru yang berlawanan dengan transaksi awal. Biasanya dilakukan untuk kondisi di saat pergerakan harga relatif kencang.
Contoh ilustrasinya seperti berikut:


Misalnya kita membuka posisi Sell pada level 1.50200, dan harga malah bergerak naik. Sampai di level 1.50500, posisi kita sudah mengalami kerugian sebesar -300 pips. Jika kita menganggap bahwa pergerakan harga masih akan naik, maka pada level 1.50500 kita menutup posisi Sell kita tadi. Pada saat yang bersamaan, kita juga membuka posisi Buy di level 1.50500.
Jika ternyata harga benar-benar terus naik hingga ke level 1.50800, maka posisi Buy kita tadi akan mendapatkan keuntungan sebesar +300 pips. Artinya, kerugian -300 pips akibat posisi Sell tadi telah tertutupi.
Switching baru boleh kita lakukan apabila kita benar-benar yakin bahwa harga akan meneruskan arah pergerakannya. Sebab, dengan melakukan switching berarti kita membuka posisi baru yang tentu memiliki potensi rugi juga, apabila ternyata harga berbalik arah lagi. Di sini diperlukan kematangan analisis dan tingkat kesiapan mental seorang trader.
3. Averaging
Averaging (atau ‘cost-averaging’) merupakan bentuk manajemen resiko yang cukup ekstrim, karena pada dasarnya teknik ini “melawan” arah pergerakan harga. Teknik ini hanya boleh digunakan bagi para trader yang memiliki mental “baja” dan juga harus memiliki dana yang cukup besar.
Contoh ilustrasi singkatnya adalah seperti berikut:


Andaikan kita melakukan Sell 1 lot di level 1.50000. Ketika harga bergerak naik hingga ke level 1.50500, kita bukannya menutup posisi yang rugi tadi, namun kita menambahkan lagi satu posisi Sell sebanyak 1 lot. Pada level ini, kerugian kita sudah mencapai -500 pips.
Ternyata, harga naik lagi hingga ke level 1.51000. Pada level ini, total kerugian kita sudah menjadi -1500 pips. Kerugian kita baru akan tertutup jika harga turun lagi sampai ke level 1.50500. Jika di level ini kita tutup semua posisi sell kita, maka kerugian kita akan menjadi nol.
Jika harga turun lagi sampai ke level 1.50000, barulah kita akan mendapatkan keuntungan sebesar +1500 pips.
Teknik ini hanya bagus jika kita gunakan dalam keadaan pasar yang sideway, karena peluang untuk harga kembali lagi ke posisi awal kita lebih besar.
4. Hedging
Ada juga yang menyebutnya “locking”. Sebenarnya, teknik ini adalah teknik yang aneh, karena si trader yang mengalami kerugian sebenarnya tidak bisa melakukan apapun terhadap kerugian yang sudah dideritanya.
Anda tidak dianjurkan melakukan hal ini. Satu-satunya alasan teknik ini dijelaskan di sini adalah agar Anda tahu bahwa ada beberapa trader yang menggunakan teknik ini.
Berikut salah satu contoh dan ilustrasinya:


Ketika seorang trader melakukan sell 1 lot di level 1.50000, ia akan mengalami kerugian sebesar -500 pips jika harga naik ke level 1.50500. (Ingat ya, dia sudah rugi lho!)
Namun ia tidak mau “membuang” posisi yang sudah rugi itu. Dia justru melakukan Buy 1 Lot di harga 1.50500. Nah, pada saat inilah si trader tersebut “mengunci” kerugiannya sebesar -500 pips. Artinya, ke manapun harga bergerak nantinya, kerugian yang dideritanya hanya sebesar “kuncian” itu.
Apapun itu, yang jelas trader tersebut sudah menderita kerugian. Tidak ada bedanya dengan melakukan cut loss, hanya saja belum ada posisi yang ditutup.
Ketika harga naik ke 1.51000, trader tersebut menutup posisi Buy yang dilakukannya di harga 1.50500 tadi. Meskipun posisi Buy ini mendapatkan keuntungan +500 pips, tapi jangan lupakan posisi Sell yang masih tertinggal di bawah (yang saat ini kerugiannya sebesar -1000 pips!). Maka dari itu, trader kita ini masih menderita kerugian sebesar -500 pips.
Kerugian trader tersebut baru akan tertutup jika harga bergerak turun ke level 1.50500, jika di harga ini dia menutup posisi Sell yang pertama kali dilakukannya (di harga 1.50000). Keuntungan sebesar +500 pips baru akan didapatkan kalau harga turun hingga ke level 1.50000.
Inilah “pembenaran” yang sering dijadikan alasan bagi para pelaku locking. Padahal kalau mau diteliti lagi, kejadian di atas tidak ada bedanya dengan melakukan cut loss di harga 1.50500, lalu melakukan Sell lagi di harga 1.51000. Coba saja hitung-hitung!

Dalam menentukan level entry (buy atau sell) dan level cut loss, switching, dan sebagainya, kita bisa memadukannya dengan analisis teknikal yang kita ketahui.



Info di atas sebenarnya bisa menambah beberapa juta rupiah di daftar asset Anda. Belum tau caranya? Yup.. Salah satunya lewat trading forex.. belajar di sini aja, 100% gratis.
Udah ahli tapi tidak berani trading besar-besaran karena pakai broker luar negri? Kalau broker lokal, komisi nya besar banget? Coba dulu di demo account dengan KOMISI TERMURAH! Coba rekomendasi demo accountnya disini ya:

3 komentar:

  1. Saya lebih sering melakukan switching karena saya melihat bahwa arah pergerakan harga berlainan dengan analisa yang saya gunakan. saya melakukan ini ketika terjadi news di dalam akaun mikro saya di ocatfx dan sekarang saya mendapatkan banyak manfaat dari trading yang saya lakukan di broker ini

    BalasHapus
  2. Saya lebih sering melakukan switching karena saya melihat bahwa arah pergerakan harga berlainan dengan analisa yang saya gunakan. saya melakukan ini ketika terjadi news di dalam akaun mikro saya di octafx dan sekarang saya mendapatkan banyak manfaat dari trading yang saya lakukan di broker ini

    BalasHapus
  3. Kalo untuk trader pemula mungkin bisa gunakan cut loss saja dulu, karena lebih mudah, sambil mempelajari mengenai teknik risk managemen yang lainnya. Saat ini jga saya selalu menggunakan teknik cut loss ketika trading bersama FBS untuk meminimalisir resiko tradingnya

    BalasHapus

 
Design by SmartradeForex - Free Demo Akun | ForexIMF.com