Jumat, 21 Maret 2014

Jadilah Trader Yang Bertanggung Jawab


Sepanjang perjalanan Anda sebagai seorang trader, Anda mungkin pernah merasakan masa-masa keemasan di mana Anda hampir semua transaksi Anda berbuah dollar. Namun tentu pernah ada masa ketika uang Anda lenyap dimakan oleh raksasa liar lagi buas yang bernama pasar.

Menjadi sukses memang bukan perkara yang mudah, terutama dalam dunia trading. Saya tidak percaya ada jalan pintas menuju sukses, sebagaimana saya juga percaya bahwa tidak mungkin seorang trader akan menjadi sukses tanpa kesadaran untuk bertanggung jawab penuh pada setiap keputusan yang diambilnya.

Salah satu bentuk tanggung jawab seorang trader adalah tidak menyalahkan siapa pun – atau apa pun – ketika mengalami kerugian. Ironisnya kebanyakan trader justru melakukan hal tersebut. Alih-alih melakukan evaluasi atas keputusannya, ia justru menyalahkan pasar, broker, indikator, atau bahkan mungkin menyalahkan kucing tetangga yang berisik di atas genteng rumah. Tidak nyambung? Memang. Makanya saya katakan ironis ketika cukup banyak trader yang menimpakan kesalahan kepada siapa pun kecuali dirinya sendiri, padahal ia sendiri yang membuat keputusan.

Sebagai trader, bukankah kita sendiri yang harus mencari peluang dan mengenali setiap resiko? Bukankah kita sendiri yang harus menentukan batasan resiko? Dengan demikian, bukankah kita sendiri yang memang harus bertanggung jawab atas setiap keputusan?

Trading forex online bukanlah mainan bagi balita yang belum mengerti arti tanggung jawab. Ia bebas memainkan semua mainannya tanpa harus bertanggung jawab jika mainan tersebut rusak atau hilang. Trading forex online adalah bisnis yang hanya diperuntukkan bagi mereka yang mampu memikul tanggung jawab yang tidak ringan.

Ada beberapa contoh trader yang sama sekali tidak bertanggung jawab atas setiap keputusannya. Sebut saja seorang trader bernama Edi. Ia adalah seorang pengikut seorang trader yang ia kenal secara online di forum-forum trading. Ia selalu meng-copy setiap langkah yang dilakukan trader tersebut. Bahkan dengan bersemangat ia sempat berceloteh tentang kehebatan teori milik sang trader tersebut di hadapan teman-temannya. Tetapi, ketika transaksinya jeblok dan uangnya terkuras, ia langsung berkata bahwa teori dan sistem sang trader tadi adalah teori tolol dan sistemnya gagal. Bahkan ia tidak segan mengutarakan hal tersebut di forum internet. Tidak butuh waktu terlalu lama, ia segera menemukan trader panutan lain, juga di internet. Dan cerita yang sama selalu berulang.

Lain lagi halnya dengan Todi. Ia selalu menyalahkan pasar ketika level stop loss-nya dihajar. Ia berpikir bahwa sistem tradingnya pasti berhasil andai saja data ekonomi sesuai dengan perkiraannya. Ia juga cukup sering menggerutu bahkan memaki-maki para pelaku pasar – yang bahkan belum pernah ia lihat sebelumnya – tiap kali pasar menghajar support atau resistance kuat.

Sedangkan Andi adalah seorang penggila Expert Advisor (EA/robot). Ia tidak segan membeli sebuah EA dengan harga yang mencengangkan saking mahalnya. Ketika EA tersebut gagal memenuhi impiannya, ia marah-marah dan menganggap bahwa EA yang ia beli itu adalah EA yang palsu atau dibuat berdasarkan strategi yang jelek sehingga ia menyalahkan pembuat EA tersebut. Apa yang ia lakukan selanjutnya? Ia kembali sibuk mencari EA lain, bukannya memperbaiki cara tradingnya.

Terakhir, ada Budi. Budi selalu mencari alasan yang tidak masuk akal ketika ia mengalami loss. Harga bergerak terlalu cepat, katanya. Di lain waktu, ia berkata bahwa gubernur bank sentral eropa sudah tidak peduli lagi pada Euro sehingga Euro jatuh. Di lain kesempatan, ia berkata bahwa broker mempermainkan chart-nya sehingga level target profit-nya tidak tersentuh dan harga berbalik arah hingga mengeksekusi level stop loss-nya.

Apa yang menjadi persamaan di antara Edi, Todi, Andi dan Budi selain bahwa nama mereka diakhiri dengan suku kata “di”? Persamaan di antara mereka adalah : mereka secara tidak langsung menolak untuk bertanggung jawab atas segala keputusan transaksi yang mereka lakukan sendiri. Memang tidak ada salahnya mengikuti trader panutan, mengikuti data ekonomi, atau menggunakan EA. Kesalahan yang sering dilakukan adalah tidak menyadari bahwa setiap keputusan ada di tangan mereka sendiri.

Jangan menolak untuk bertanggung jawab karena meskipun pahit hal tersebut adalah jamu yang mujarab. Tanggung jawab akan menuntun Anda untuk melakukan evaluasi dan evaluasi akan membantu Anda untuk menemukan letak kesalahan Anda. Pada gilirannya, hal tersebut akan mengantarkan Anda ke depan pintu gerbang kesuksesan sebagai seorang trader atau analis.

Tentu saja, nama Edi, Todi, Andi dan Budi dalam artikel ini hanyalah nama samaran. Jika ada kesamaan nama dengan Anda atau kerabat Anda, hal itu hanya kebetulan. Namun trader yang memiliki karakter seperti Edi, Todi dan Andi sangat banyak bertebaran di muka bumi ini.

Apakah Anda pernah mengenal trader seperti mereka? Atau bahkan Anda sendiri bersikap seperti mereka? Saya harap tidak. Semoga. 


Info di atas sebenarnya bisa menambah beberapa juta rupiah di daftar asset Anda. Belum tau caranya? Yup.. Salah satunya lewat trading forex.. belajar di sini aja, 100% gratis.
Udah ahli tapi tidak berani trading besar-besaran karena pakai broker luar negri? Kalau broker lokal, komisi nya besar banget? Coba dulu di demo account dengan KOMISI TERMURAH! Coba rekomendasi demo accountnya disini ya:

1 komentar:

  1. menjadi seorang trader haruslah bisa bertanggung jawab. apalagi jika menggunakan EA yang memang tradingnya otomoatis, maka dari itulah dalam trading di octafx sebisa mungkin dilakukan banyak perbaikan supaya management resikonya juga bisa ikut dikembangkan

    BalasHapus

 
Design by SmartradeForex - Free Demo Akun | ForexIMF.com